Wednesday, March 05, 2008

They always smile at me

Even both of you have been far from me, but I still feel your warm-hug.
Even both of you have gone for good, but I still feel your appearance.
Even both of you have not talked to me directly, but I still feel being advised.
Even both of you have not seen me anymore, but I still feel being watched.

Sadness and happiness are only the beginning.
Maybe this feeling will be decreased.
But I always remember...
the last thing both of you have done was smiling at me.
That always keep me strong.

For my beloved Father and Mother

Tuesday, January 22, 2008

Evolusi diri Manusia (Part III): Niat


Bisakah anda menghitung berapa banyak kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, kita lakukan dengan penuh kesadaran (niat sampai dengan evaluasi). Beberapa penelitian yang saya baca, hasilnya tidak lebih dari 5% . Cukup mencengangkan!!! Artinya 95% bisa dalam bentuk refleks, otomatis, lupa dan sebagainya, yaitu kita lakukan tanpa kesadaran dan niat.

Pertanyaanya: masihkan niat itu kita perlukan dalam komposisi seperti ini (1:19)? Jawaban singkatnya mudah: Tidak perlu, kalau kita menggunakan dasar bahwa kegiatan tanpa niat itu memiliki koefisien nol dan dengan niat 1. Kesimpulannya, dengan atau tanpa niatpun kita bisa hidup dan beraktivitas.

Untuk menjawab argumen lain, saya gunakan kebalikannya, kegiatan+niat saya beri koefisien nol dan minus niat saya beri angka 1. Kira-kira hasilnya akan sama perumpamaannya dengan orang tidur, gila, mengalami koma atau zombie. Terus terang, hidup secara ekstrim tanpa niat seperti ini bukan yang kita harapkan bukan...

Akhirnya saya gunakan premis kausalitas untuk menunjukkan hubungan kegiatan dengan niat dan tanpa niat. Ternyata kedua hal ini memiliki hubungan loop positif, yaitu jika kegiatan dengan niat bertambah maka kegiatan tanpa niat akan bertambah pula dan jika kegiatan tanpa niat bertambah maka kegiatan dengan niat akan makin bertambah. Lho dari mana asalnya?

Saya coba lihat beberapa orang yang membiasakan diri melakukan sesuatu secara teratur, maka lambat laun akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan inilah muncul 'alarm' bawah sadar kalau kegiatan itu belum dilakukan. Sedangkan premis berikutnya saya pelajari, bahwa 'alarm' bawah sadar yang semakin banyak akan cenderung membuat orang tersadar untuk merencanakan sesuatu dalam kegiatannya. Akhirnya, harus ada pengaturan kegiatan yang harus dilakukan dengan jadwal tertentu. Alur ini akan berjalan terus menerus.

Dari sinilah saya beragumen, bahwa walaupun hanya 5% tapi trigger awal itu adalah niat. Tanpa niat maka activation function kegiatan sehari-hari hanya berhenti pada tataran infra. Sehingga fungsi dan nilai hidup manusia pun hanya pada tataran infra. Rene Descartes, karena beliau filsuf, berkata Cogito ergo sum. Dengan niat maka kehidupan kita akan lebih terencana sehingga nilai hidup kita pun bisa kita evaluasi setiap saat tingkat kemajuannya.

Bukankah kewajiban kita untuk selalu melakukan evaluasi diri demi cita-cita kualitas hidup lebih baik. Tanpa niat kita akan kehilangan panduan atau pegangan dan arti dari hidup ini.

Wednesday, December 12, 2007

Kenapa harus ber-qurban?


Momen dan momentum memiliki dua pengertian yang berbeda, namun kadangkala kita salah menggunakannya. Momen(t) sudah mengandung arti arah (direction) dan magnitude(size) dari suatu gerakan, sedangkan dalam momentum, walaupun ada vektor kecepatan tapi tidak terkandung informasi tentang arah gerakan. Sehingga dalam mengartikan hari-hari suci umat beragama melalui Kitab suci atau sunnah Rasul, seharusnya menjadi momen bukan sekedar momentum. Umat Islam selalu diingatkan untuk bertindak ekstrim terhadap ibadahnya pada waktu tertentu, Sholat 5 waktu, Puasa di bulan ramadhan, Haji, Isra' Mi'raj serta beberapa hal lainnya, termasuk diantaranya ber-qurban di bulan Dzulhijjah.

Saya coba mulai dari 3 buah contoh headline kisah suci tentang makna ber-qurban. Pertama, kisah 2 putra Nabi Adam a.s (Habil dan Qabil) untuk ber-qurban dari mata pencahariannya. Kedua, kisah Nabi Ibrahim a.s yang diperintahkan ber-qurban putranya Ismail a.s. Ketiga, kisah kaum Bani Israil dan Nabi Musa a.s yang diminta ber-qurban sapi. Ketiga kisah tersebut memiliki latar belakang yang sangat berbeda untuk ber-qurban. Kisah pertama adalah tentang 'arti berbagi' atas jerih payah sendiri kepada pihak lain. Kisah kedua lebih sulit tingkatannya karena memberikan sesuatu yang sangat dicintai kepada pihak lain. Sedangkan kisah ketiga, memberikan sesuatu kepada pihak lain sebagai pengganti. Namun perintah berkorban pada ketiga kisah tersebut mengandung arti sama, yaitu submission (agar lebih bertaqwa). Bahkan dalam Q.S Al Maidah:127 disebutkan "...Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa". Artinya ber-qurban jika dan hanya jika bertaqwa, apapun alasannya.

Saya menjadi diingatkan untuk mengerti bahwa arti ber-qurban lebih dari arti harfiahnya. Ini lebih merupakan panggilan jiwa, hanya dengan taqwa maka momentum ber-qurban menjadi momen untuk lebih bertaqwa. Kerendahan hati, kepedulian dan semangat memberi kepada pihak lain adalah pancaran pribadi yang akan semakin jernih seiring dengan ketulusan kita dalam menjaga momen ber-qurban dalam kehidupan sehari-hari.

Ya Allah, terima kasih atas keridlaan dan kasih-MU kepada seluruh umat manusia yang telah tulus berkorban dalam bentuk apapun, di manapun tempatnya dan dalam setiap kesempatan. Amien...

Thursday, November 22, 2007

3 Ksatria Graz (Bagian II - Evolusi...)


Pertama datang ke Graz, Oktober tahun lalu, saya sudah dikenalkan dengan teman-teman yang sama-sama berjuang melalui sekolah di kota ini. Demikian juga dengan teman sepermainan hobi main gamelan. Tidak terasa satu per satu teman dekat ini meninggalkan kota Graz kembali ke tanah air. Padahal saya baru mulai belajar mengenal dan berusaha menjadi teman yang baik...

Tahun ini, genap 3 temen baik saya sudah menyelesaikan study sebagai Doktor: mas Aswandy (bulan Maret), mas Suyitno (bulan September) dan Sendy (bulan Oktober). Ucapan selamat serasa tidak cukup untuk mereka bertiga. Mereka tidak hanya mumpuni secara keilmuan tapi juga menjadi teman yang memiliki pribadi yang sangat hangat. Saya tidak pernah merasa sendiri, walaupun komunitas kami sangat kecil. Dan saya pribadi menilai, inilah sebenarnya yang diinginkan oleh semua orang (Cita-cita Puncak - Ultimate Goal) di dunia, berpendidikan tinggi berbanding lurus dengan pribadi yang baik.

Tanpa kehilangan keunikan dalam diri masing-masing, ketiga teman saya ini mampu dengan baik berbaur tapi memberi warna yang beragam dalam persahabatan kami. Saya tidak malu-malu untuk mengatakan, mereka adalah pantas untuk dijadikan contoh dalam kapasitas tertentu. Saya melihat dengan seringnya interaksi, komunikasi, curhat bahkan semangat saling memberi di masa lalu mereka, kristalisasi pribadi yang baik akan terbentuk. Dan hal inilah yang menjadikan persahabatan menjadi langgeng, saling menghargai dan menghormati keunikan pribadi teman kita.